Hari-hari Fajar
On Selasa, 05 April 2011 /
By Gavrila Ramona Menayang /
No Comments
Fajar terbangun pagi-pagi. Waktu itu ayam belum bangun untuk berkokok dan matahari belum kelihatan, tapi Fajar sudah beranjak dari tempat tidurnya; langsung menuju komputernya.
Lalu dia bermain internet.
Lalu dia bermain internet.
Lalu dia bermain internet.
Begitu sadar, ayam sudah tidur lagi dan matahari sudah hilang lagi. Lalu Fajar tidur.
Lalu dia bermain internet.
Lalu dia bermain internet.
Lalu dia bermain internet.
Begitu sadar, ayam sudah tidur lagi dan matahari sudah hilang lagi. Lalu Fajar tidur.
Gemas
On Minggu, 03 April 2011 /
By Gavrila Ramona Menayang /
No Comments
Pada suatu hari, seorang kakek tua berjalan pelan-pelan di kaki lima.
Ma... Ma... Ma...
Karena matanya rabun ia tidak melihat sebuah batu di depannya, dan ia pun terjatuh.
Tuh... Tuh... Tuh...
Seorang ibu-ibu gendut bergegas menghampiri si kakek tua dan membantunya berdiri; si kakek tersenyum memperlihatkan gigi ompongnya dan berkata, Terima kasih.
Sih... Sih... Sih...
Ma... Ma... Ma...
Karena matanya rabun ia tidak melihat sebuah batu di depannya, dan ia pun terjatuh.
Tuh... Tuh... Tuh...
Seorang ibu-ibu gendut bergegas menghampiri si kakek tua dan membantunya berdiri; si kakek tersenyum memperlihatkan gigi ompongnya dan berkata, Terima kasih.
Sih... Sih... Sih...
Djajoes
On Jumat, 01 April 2011 /
By Gavrila Ramona Menayang /
No Comments
Pada suatu hari, aku bertemu dengannya di persimpangan jalan. Kami berbasa-basi sebentar, lalu kubilang, Aku harus pergi. Aku hendak pergi, tapi dia menahanku. Katanya, Aku punya lelucon yang sangat lucu, kau harus dengar...! Maka berceritalah dia.
Leluconnya tidak lucu, tapi aku paksakan tertawa. Ha! Ha! Ha! Ah! Ah! Ah!
Sampai rahangku sakit.
Semua karena lelucon yang tidak lucu.
Leluconnya tidak lucu, tapi aku paksakan tertawa. Ha! Ha! Ha! Ah! Ah! Ah!
Sampai rahangku sakit.
Semua karena lelucon yang tidak lucu.
Cabikan
-
“Wiiiinaaaaa!” Bahkan sebelum dia berteriak begitu, aku sudah bisa merasakan kehadirannya dari ujung lorong. Aku selalu bisa membaui aro...
-
"Selamat ulang tahun, Anya...!" Anya terdiam sejenak; dengan kaget memandang belasan wajah-wajah familiar dengan senyuman membeku-...
-
Sore itu, dua orang anak berambut cokelat berjalan pulang ke rumahnya--kakaknya yang perempuan rambutnya lebih terang, dan adiknya yang laki...
-
Kamar Julian tidak pernah rapi--kecuali selama beberapa hari, yang berlangsung kira-kira enam bulan sekali. Karena, kira-kira enam bulan sek...
-
Ada roti manis dan biskuit keju di lemari, serta sekartun besar susu cokelat di kulkas. Aku mengambil semuanya itu dan memasukkannya ke dala...
-
"Jadi, bagaimana kamu bilang cinta ke dia?" Matahari dan bekas-bekasnya sudah tidak kelihatan lagi. Cahaya di perpustakaan tua ini...
-
Tolong aku. Kadang, kalau aku sedang duduk sendirian di kelas dan tidak benar-benar memikirkan apapun, aku melamun dan aku dapat mendengar s...
-
Dan hari ini pun sama. Dia masih tidak menyapaku. Padahal aku sudah memaksakan diri bangun jam enam pagi, untuk dapat berangkat jam setengah...
-
Min itu temanku, yang sedang duduk di depanku, dengan latar yang berjalan terus. Sekarang aku bisa melihat ujungnya monumen nasional yang em...
-
Kerah kemeja yang terangkat itu sudah kehilangan jati diri warna putihnya. Semua kancing tak terpasang, memperlihatkan tubuh yang kurus dan ...
Search
Nomina Insan
- Gavrila Ramona Menayang
- jong selebes, murid-Nya yang kinasih, duapuluh satu, mahasiswi arsitektur, tukang sketsa, tukang cerita, penata amatir, penyuka buah dan jajanan, pengguna aktif bahasa Indonesia