Dari Atas Pohon di Samping Danau

On Rabu, 19 Januari 2011 / By Gavrila Ramona Menayang / Reply
Ada roti manis dan biskuit keju di lemari, serta sekartun besar susu cokelat di kulkas. Aku mengambil semuanya itu dan memasukkannya ke dalam ransel. Mereka lebih ringan daripada buku-buku pelajaran--isi tasku yang biasanya. Hari ini aku tidak membutuhkan buku-buku pelajaran itu karena aku tidak akan pergi ke sekolah, meskipun saat ini aku mengenakan seragam. Aku harus mengenakan seragam supaya Bunda tidak curiga bahwa hari ini aku mau kabur dari rumah.

***

Aku menatap pohon di hadapanku. Pohon ini daunnya tidak terlalu banyak, dan dia tampak sangat tinggi...--yah, mungkin bagi Ayah atau kedua kakakku tidak terlalu tinggi. Walaupun begitu, ia tampak kokoh dan banyak cabang-cabang yang dapat kupijak. Posisinya pun sangat bagus, tepat di samping danau yang mengerikan itu. Kalau aku sudah naik, aku bisa bergeser dan aku akan berada di atas danau. Dan melihat pantulanku di air, mungkin.

Ranselku harus dibawa karena makananku ada di dalamnya. Aku mengencangkan tali ransel dan mencopot sepatu serta kaus kakiku. Lalu aku memegang batang pohon itu dengan tangan kiri, dan menaikkan kaki kananku ke cabang terdekat dan--hop! Aku berhasil naik. Aku terus memanjat dari cabang ke cabang, ternyata tidak sesulit yang terlihat dari bawah sana. Setelah beberapa detik, aku berhasil sampai di bagian yang cukup tinggi. Aku bergeser ke bagian yang tepat di atas danau dan menaruh pantatku di posisi yang paling nyaman.

Aku merasa senang. Sudah lama aku memperhatikan pohon ini, aku melewatinya tiap kali berjalan ke sekolah, tapi baru kali ini aku benar-benar memanjatnya. Aku senang--tapi pada saat bersamaan aku juga sedih karena saat ini aku sendirian. Tidak ada yang tahu bahwa aku berhasil memanjat pohon tinggi ini. Tentu saja aku bisa menceritakannya pada orang-orang, tapi itu tidak sama. Akan lebih mengasyikan kalau di sini ada saksi hidup yang melihatku melakukan semuanya ini.

Aku menggantung ranselku di cabang yang ada di atasku dan mengambil roti manis dari dalamnya. Ini makanan pertamaku hari ini--tadi aku tidak mau sarapan karena Bunda yang memasak sarapan itu dan aku kan sedang marah sama Bunda. Aku juga marah sama Ayah. Aku tidak marah pada kedua kakakku, tapi saat ini aku tidak ingin bertemu dengan mereka juga. Itulah kenapa aku kabur dari rumah.

Roti manis itu rasanya enak. Susu cokelatnya juga enak. Aku menghabiskan keduanya sambil memandang ke seberang danau. Sementara biskuit kejunya sudah tidak enak lagi. Aku hanya memakan setengah, sisanya aku taruh lagi. Pantulanku di danau tidak terlihat, tertutup oleh bayangan daun-daun dan lain-lain.

Aku bisa melihat ada beberapa rumah di seberang danau. Semuanya bagus sekali. Pasti menyenangkan memiliki rumah yang langsung menghadap ke danau. Pasti seru sekali. Rumahku yang sekarang membosankan. Tapi aku tidak mau pindah, dari kecil aku sudah tinggal di sana.

Aku melihat jam: jam satu siang. Aku mengambil ranselku dan memanjat turun. Lalu aku memakai kaus kaki dan sepatu. Sudah cukup kaburnya, sekarang waktunya makan siang.

2 Responses to “Dari Atas Pohon di Samping Danau”

Comments

  1. Semangat, salut buat blogger seperti anda... jangan berhenti untuk menulis, karena dunia berputar dengan bahan bakar tulisan

Reply