Harapan

On Sabtu, 03 September 2011 / By Gavrila Ramona Menayang / No Comments
Pagi ini aku bangun telat. Tidak jadi sarapan dan bikin bekal. Berangkat kuliah dengan kelaparan, dan berakhir membeli makanan kantin yang mahal dan tidak enak.

Bermasalah dengan dosen di kamspu. Kalah debat reseh-resehan dengan teman. Dongkol.

Pulang, berhasrat membaca novel-novel yang sudah bertumpuk. Tapi entah kenapa malah membuka laptop dan mulai bermain internet. Keterusan, keterusan.

Tiba-tiba matahari sudah terbenam. Kesal. Mau mengerjakan tugas tapi mengantuk.

Aku mandi. Makan malamnya? Hm, padang saja, seperti biasa. Makan malam yang membosankan...

Lalu aku pergi tidur.

Besok ada hari baru. Sebuah misteri yang masih bersih.

Mahal Senyum

On Jumat, 02 September 2011 / By Gavrila Ramona Menayang / No Comments

Di seluruh dunia ini, hanya ada tiga orang yang mengaku pernah melihat Anin tersenyum.

*

Yang pertama adalah Siti, pembantu di rumahnya ketika Anin berusia enam belas tahun. Sudah dua tahun lamanya Siti berhenti bekerja pada nenek dan kakek Anin. Siti memilih bekerja di sebuah mal yang gajinya lebih baik, walaupun ia mengaku nenek dan kakek Anin memperlakukannya dengan sangat baik. Anin juga baik-baik saja, akunya. Menurut Siti, Anin anak yang tidak merepotkan, jarang berbicara, dan sering melamun.

“Sekali, aku ingat,” kenang Siti. “Aku lagi nyirem taneman, toh. Mbak Anin baru bangun. Lagi makan roti sambil ngeliat ke arah taman...”

Satu hal yang menurut Siti agak mengganggu tentang Anin, ia sering memperhatikan orang. Seperti melamun sambil menatap seseorang terus-menerus tanpa sadar. Itu yang sedang dilakukannya pada pagi hari yang cerah itu, saat usianya enam belas tahun.

“Aku kan lagi nyirem pake selang, ujungnya kututup dikit pake telunjuk biar muncratnya jauh,” Siti memperagakan dengan tangannya. Matanya bertambah besar saking serunya ia berkisah. “Eh, karena nggak konsen diliatin begitu, kebanyakan aku nutup ujungnya! Muncrat balik deh airnya ke aku!”

Dalam kaget dan dingin mendadak, Siti bercerita ia latah dengan sumpah serapah a la Kasino Warkop.

“Aku denger kayak bunyi dengusan gitu. Waktu noleh, eh, aku liat Mbak Anin lagi senyum,” kenang Siti dengan wajah terkesima. “Senyumnya tipis aja. Nggak banyak. Lalu, cuma berapa saat, dia makan lagi deh.”

*

Yang kedua adalah Nino. Nino itu anak dari sepupunya Anin yang sebelas tahun lebih muda darinya. Anin sering diminta menjaganya ketika kedua orang tua Nino pergi bekerja.

Nino banyak bertanya. Suatu kali, Nino bertanya dengan polos, “Mbak Anin, Bunda-Bapaknya Mbak di mana, sih?”

Saat itu, kenang Nino, Anin menatap Nino. Awalnya ekspresinya tegang dan datar, entah kaget atau kesal, tapi lalu melunak dan ia tersenyum.

“Senyumnya...” Nino mengernyitkan dahi ketika diminta mendeskripsikan senyum itu. “Kayak... waktu aku disuruh ngelepas anjingku, Ajijo, karena dia kebanyakan kutu. Terus aku liat dia main-main, lucu gitu, tapi sambil lari makin jauh ke hutan-hutan situ. Pas itu aku kayak senyum gitu, tapi sebenernya nggak mau senyum.”

*

Yang ketiga adalah ibunya.

Beliau tidak bisa dimintai keterangan karena sudah meninggal dua belas tahun yang lalu.

Keluhan Kecil Seorang Siswi Nakal

On Kamis, 01 September 2011 / By Gavrila Ramona Menayang / No Comments

“Wiiiinaaaaa!”

Bahkan sebelum dia berteriak begitu, aku sudah bisa merasakan kehadirannya dari ujung lorong. Aku selalu bisa membaui aroma aneh menyengat yang selalu ia bawa itu. Seperti bau bawang merah dan cabai-cabaian. Uh. Tapi, apa daya, aku terpaksa berhenti juga.

“Ya, Bu.”

Ia menurunkan kacamatanya sedikit dan mengamatiku dengan mata yang disipitkan. Layaknya burung elang yang siap menyantap mangsanya.

“Kamu hafal peraturan sekolah nomor 5A, kan?”

Aku menarik nafas, “Ya, Bu.”

“Coba,” ia mengangguk kecil sambil terus menatapku.

“’Rok minimal lima sentimeter di bawah lutut’,” ucapku, keras dan bosan.

“Rokmu berapa itu, Nak?”

“...di atas lutut, Bu.”

“—Jadi! Harus diapakan itu, Nak?”

Aku memutar bola mataku, “Dedel, Bu.”

Aku melihat seringai di wajahnya yang kejam saat ia mengeluarkan pisau lipatnya, dan sumpah-mati ekspresinya mirip Chucky di adegan terseram. Ia memberikan pisau lipatnya kepadaku dan aku pun mendedel rokku untuk yang kesekian kalinya. Ketika akhirnya bel masuk kelas berbunyi, aku menghela nafas lega dan berjalan menjauh. Aku tidak pernah suka dengan bau bawang merah dan cabai-cabaian. Dan, sumpah-mati, wanita itu benar-benar beraroma seperti itu.

Tidak heran dia tidak punya suami.