Mahal Senyum

On Jumat, 02 September 2011 / By Gavrila Ramona Menayang / Reply

Di seluruh dunia ini, hanya ada tiga orang yang mengaku pernah melihat Anin tersenyum.

*

Yang pertama adalah Siti, pembantu di rumahnya ketika Anin berusia enam belas tahun. Sudah dua tahun lamanya Siti berhenti bekerja pada nenek dan kakek Anin. Siti memilih bekerja di sebuah mal yang gajinya lebih baik, walaupun ia mengaku nenek dan kakek Anin memperlakukannya dengan sangat baik. Anin juga baik-baik saja, akunya. Menurut Siti, Anin anak yang tidak merepotkan, jarang berbicara, dan sering melamun.

“Sekali, aku ingat,” kenang Siti. “Aku lagi nyirem taneman, toh. Mbak Anin baru bangun. Lagi makan roti sambil ngeliat ke arah taman...”

Satu hal yang menurut Siti agak mengganggu tentang Anin, ia sering memperhatikan orang. Seperti melamun sambil menatap seseorang terus-menerus tanpa sadar. Itu yang sedang dilakukannya pada pagi hari yang cerah itu, saat usianya enam belas tahun.

“Aku kan lagi nyirem pake selang, ujungnya kututup dikit pake telunjuk biar muncratnya jauh,” Siti memperagakan dengan tangannya. Matanya bertambah besar saking serunya ia berkisah. “Eh, karena nggak konsen diliatin begitu, kebanyakan aku nutup ujungnya! Muncrat balik deh airnya ke aku!”

Dalam kaget dan dingin mendadak, Siti bercerita ia latah dengan sumpah serapah a la Kasino Warkop.

“Aku denger kayak bunyi dengusan gitu. Waktu noleh, eh, aku liat Mbak Anin lagi senyum,” kenang Siti dengan wajah terkesima. “Senyumnya tipis aja. Nggak banyak. Lalu, cuma berapa saat, dia makan lagi deh.”

*

Yang kedua adalah Nino. Nino itu anak dari sepupunya Anin yang sebelas tahun lebih muda darinya. Anin sering diminta menjaganya ketika kedua orang tua Nino pergi bekerja.

Nino banyak bertanya. Suatu kali, Nino bertanya dengan polos, “Mbak Anin, Bunda-Bapaknya Mbak di mana, sih?”

Saat itu, kenang Nino, Anin menatap Nino. Awalnya ekspresinya tegang dan datar, entah kaget atau kesal, tapi lalu melunak dan ia tersenyum.

“Senyumnya...” Nino mengernyitkan dahi ketika diminta mendeskripsikan senyum itu. “Kayak... waktu aku disuruh ngelepas anjingku, Ajijo, karena dia kebanyakan kutu. Terus aku liat dia main-main, lucu gitu, tapi sambil lari makin jauh ke hutan-hutan situ. Pas itu aku kayak senyum gitu, tapi sebenernya nggak mau senyum.”

*

Yang ketiga adalah ibunya.

Beliau tidak bisa dimintai keterangan karena sudah meninggal dua belas tahun yang lalu.

Reply