(ini bukan fiksi, sih)

On Jumat, 14 Oktober 2011 / By Gavrila Ramona Menayang / No Comments
Setelah melihat beribu masa kecil diganti dengan acara rutin mengamen di jalan, borok dan cacat meminta-minta, pengemis yang bandel dan jago main peran, bencong, pelacur, serta kekayaan alam nusantara yang buat sia-sia,

Bisa, aku, berkomentar tulus dan menyentuh. Bisa, aku, berhenti untuk mereka sekali-kali, sekadar mengobrol atau memberi sedekah. Bisa, aku, menangis haru seiring dengan lagu latar di sebuah dokumenter yang dibuat dengan lihai,

Tapi kuputuskan hatiku terlalu kecil untuk melakukan lebih dari itu.

Tuhan, aku minta hati-Mu.

(...tapi ini bukan fiksi, sih)

Seekor Anjing dan Tuannya

On Kamis, 13 Oktober 2011 / By Gavrila Ramona Menayang / No Comments
Anjing kampung itu terlihat lelah. Ia berputar-putar, mencari air dengan membabi buta, tapi tak ditemukannya. Lidahnya dijulurkan keluar. Ia memandang tuannya dengan penuh harap.

"Tuan, mau ke mana kita sekarang?" tanya anjing itu kepada tuannya. "Aku haus sekali. Dari tadi kita berjalan tanpa berhenti. Tuan bisa sekali-kali minum dari botol plastik itu, tapi aku? Lagipula tadi kan Tuan baru saja menyuruh aku menangkap bola yang dilempar jauh-jauh. Capek sekali, Tuan..."

Pria yang memegang ujung tali lehernya itu menoleh dan berdecak sebal, "Diam, ah! Gonggong melulu!"

Pada Suatu Minggu Pagi Yang Cerah, Aku Pergi ke Dufan untuk Naik Wahana Baru

On Sabtu, 01 Oktober 2011 / By Gavrila Ramona Menayang / No Comments
Seperti saat perempuan berjanggut
dan laki-laki bertetek,

juga seperti ikan terbang tinggi
dan burung menyelam.

Terbalik-balik.
Terbolak-balik.
Terbolak-bolak.