Pembawa Berita (1)

On Senin, 29 Agustus 2011 / By Gavrila Ramona Menayang / Reply

Seperti kunjungan-kunjungan sebelumnya, kali ini juga aku tidak dipersilakan masuk. Ria hanya memandangku sekilas tanpa membuka pagar, membelakangiku, dan pelan-pelan berjalan masuk ke rumahnya. Tapi aku mengerti bahwa ia sedang mengisyaratkan aku untuk ikut masuk.

“Pakde di mana, Ri?”

“Pakde,” Ria mengulang kata itu pelan-pelan. “Ke luar negeri seminggu ini, Jo.”

“Oh. Oke.”

Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Rumah sepupuku ini begitu luar biasa. Sekilas memang terlihat seperti rumah biasa, tapi kalau dilihat lebih rinci, kau akan menangkap hal-hal yang tidak biasa. Di rumah ini, hampir semua perabotannya dibuat sendiri oleh Ria. Peralatan makan, kursi, meja, tirai, karpet, dan teralis jendela... semuanya tidak mengikuti standar toko yang biasa.

“Minum, Kak?” Ria menatapku dengan mata yang tidak bisa dibaca. Ramah, tapi tidak juga. Disodorkannya mug buatannya sendiri, yang berwarna merah menyala, kepadaku.

“Boleh. Terima kasih.”

Sambil duduk di sofa yang tidak terlalu nyaman, aku menatap Ria dengan latar belakang dinding yang ia cat sendiri. Ia terlihat begitu cocok dengan semua ini. Rasanya tidak tega aku memberi tahunya kalau Pakde sudah menjual rumahnya.

(bersambung)

Reply