Eyang

On Sabtu, 28 Mei 2011 / By Gavrila Ramona Menayang / Reply

Aku selalu bilang, eyangku itu orang paling bijaksana di seluruh dunia.

“Jangan pernah mencoba menilai orang lain, Nduk,” katanya suatu hari, sambil duduk di kursi goyang di teras rumahnya. “Karena kita, manusia, tidak pernah benar-benar tahu tentang orang lain. Kita cuma tahu apa yang bisa dilihat, yang bisa didengar. Tapi kita tidak pernah tahu apa yang ia lakukan kalau tidak ada orang lain, apa yang ia pikirkan dalam hatinya.”

Aku memang tidak pernah mencatat kata-kata Eyang, tapi aku ragu ada yang terlupakan olehku.

Pernah, aku mengalami hari yang buruk—waktu itu aku baru kelas lima SD. Di sekolahku diadakan lomba matematika dan setiap kelas mengirim perwakilannya. Aku termasuk anak yang pintar di sekolah, jadi aku yakin sekali aku yang dipilih. Tapi ternyata mereka malah memilih Yanti. Aku kecewa sekali. Sore itu, aku langsung berlari ke rumah Eyang—yang berada di dekat sekolah—dan menceritakan semua kepadanya. Ia mendengarkanku dengan mimik serius dan memberiku nasehat dengan mimik serius juga.

“Kalau kau kecewa, Nduk,” katanya padaku. “Katakan pada dirimu, Ya, jadi ini namanya kecewa, sudah, ya. Dengan begitu, kau melihat situasi kecewa ini dari luar. Secara tidak sadar kau sudah berada di luar kekecewaan itu. Mengerti, Nduk?”

Lalu ia memandangku lurus, memastikan aku mengerti. Aku mengangguk.

Itu yang aku sukai dari Eyang. Ia tidak pernah menganggap masalahku sepele. Kalau aku menceritakan masalahku ke Ayah, Ibu, atau kakak-kakakku, mereka akan memberiku nasehat dengan ‘mimik orang dewasa’. Begitu aku menyebutnya. Artinya, mimik yang mengatakan bahwa aku masih kecil dan tidak mengerti apa-apa, sedangkan mereka sudah dewasa dan mengerti banyak hal. Eyang tidak pernah begitu. Ia selalu berusaha mendengarkan ceritaku dengan seksama. Padahal pendengarannya tidak sebaik Ayah, Ibu, atau kakak-kakakku.

Eyang itu pahlawan masa kecilku.

***

Hari ini, aku tiba-tiba mendapati diriku sudah dewasa. Padahal rasanya baru kemarin aku duduk di pangkuan Eyang, mendengarkan ceritanya.

Hari ini, aku memakai kemeja hitam terbaikku dan mengantar Eyang ke gerbang Surga.

“Kalau kita hidup, Nduk, itu hanya untuk menjadi berkat bagi orang lain.”

“Kalau mati, Eyang?”

Eyang tersenyum dan menatapku lurus, “Mati, Nduk, adalah keuntungan.”

***

Meski belum semua pesannya yang dapat aku mengerti sepenuhnya, aku selalu bilang, eyangku itu orang paling bijaksana di seluruh dunia.

Padahal dia tidak lulus SMA.

2 Responses to “Eyang”

Comments

  1. Anonim says:

    Bagusss! Tapi, lho, Opung? Eh, Eyang lagi?

  2. Argh, oh iya salah kak hahaha

Reply