Percakapan (2)

On Kamis, 26 Mei 2011 / By Gavrila Ramona Menayang / Reply
"Eh, Bu, permisi..."

Pria itu perlu mengulangi kalimatnya karena si nenek tua masih juga bergeming seakan ada sumbat di telinganya dan lem di pantatnya. Dengan sedih pria tersebut menghela napasnya. Karena ia tidak mungkin menyingkirkan nenek ini dengan paksa, ia mulai memikirkan dimana ia bisa bekerja selanjutnya bila ia dipecat dari perpustakaan kota ini.

"Kenapa kamu dipecat dulu?" begitu bos barunya akan bertanya.

"Eh--karena saya tidak menutup jendela, Pak," begitu ia akan menjawab dengan pelan.

"Hmm..." dan bos barunya tidak akan tahu tentang nenek menyebalkan yang menghalanginya menutup jendela.

"Nak."

Suara si nenek membuyarkan lamunannya. Tidak seperti yang ia duga, suaranya lancar dan nyaring. Lebih seperti penyiar radio daripada seorang nenek yang tidak lagi punya rambut hitam.

"Eh--iya, Bu?" si pria muda salah tingkah.

"Kamu pernah jatuh cinta, Nak?"

Makin salah tingkah--ditambah bingung, ditambah frustasi--si pria muda hanya megap-megap seperti ikan dikeluarkan dari akuarium. Si nenek, sementara itu, manggut-manggut paham, seakan pria muda itu menjawab dengan sesuatu yang panjang dan pantas didengarkan.

"Baiklah," kata si nenek setelah beberapa detik hening yang ganjil. "Ceritakan padaku bagaimana."

--bersambung

Reply